Eufimisme. Implisitisme.

Di titik itu, aku ingin berhenti. Namun penjelajahan justru dimulai situ, di titik itu. Awal dari sesuatu yg nampaknya tak ingin ku akhiri. Akhir dari penantian akan suatu awal.

 

 

 

Disitu, di titik itu.

Titik itu.

Itu.

 

 

 

Pusat semestamu, dimana aku membiarkan gravitasimu/ku merengkuhku/mu. Pusat semestaku, dimana jemaritakkasatmataku/mu menggenggammu/ku.

 

 

 

Di titik ini, aku akan berhenti. Namun penyidikan justru akan terlaksana lebih dalam, di titik ini. Tak akan berakhir sampai tersidik awalnya. Upaya ungkap awal dari sesuatu yg sebenarnya tak memiliki akhir.

 

 

 

Disini, di titik ini.

Titik ini.

Ini.

 

 

 

Pusat ruang intisariku, dimana ruangutamanya adalah intisarimu. Pusat ruang intisarimu, yang selalu lepas rela kubiarkan terisi intisariku, sepenuh yang kau mau, sebutuhlengkap hasrat alamimu.

 

 

 

Di titik itu, yang ini, kita biarkan alam memegang kendali. Kita serahkan intisari semesta kita untuk silih memadu lalu mencair, sejalan nafas menjadi likat memadat untuk kemudian menyublim. Diserap ruang dihirup waktu.

 

 

 

Di titik itu, yang ini.

(usap ruang dada dimana labuh kalbu).

 

Iklan

Internusa 5.

Uphill. (Wind beneath your hairs).

Mungkin tidak lagi kamu ingat. Tepatnya, tidak lagi dirasa perlu untuk mengingat. Atau sudahlah, kita sepakati saja bahwa memang kita tak pernah ke situ; ke bukit itu.

Namun sempatkanlah hadir disitu, berbelas menit sebelum corong masjid menyuarakan panggilan bagi mereka yg hendak meraih kemenangan, sebelum langit memudar dari terang. Saat itu, dari ketinggian bukit bisa kau lihat betapa kita, manusia, tak pernah sepenuhnya rela membiarkan gelap menguasai alam. Kita memang selalu mencoba menyiasati alam. Bohlam, neon, tl, petromax, lilin, obor, dan berbagai alat pengubah enerji menjadi cahaya, perlahan nyala satu persatu di kejauhan. Seolah perlahan puluhan, ratusan ribu, jutaan, kerlip kunang kunang bergumam nyala satu persatu saat sang cahaya utama mulai menyembunyikan diri di ufuk. Identik dengan apa di dalam sini yg pelan menyala lalu tak terbendung saat berdekatan denganmu.

Di bawah sana, di kota yg dilingkup bukit seperti mangkuk itu, biasanya angin semakin gegas bergerak dari ketinggian mencari tekanan di kerendahan.

Temukan satu titik tempatmu berdiri, atau duduk menjuntaikan kaki dari jok, atau kap kendaraanmu. Pokoknya temukan sajalah satu titik tempatmu memandang ke bawah sana, dari bukit itu, di atas situ.

Di atas situ, biarkan angin itu merambahi pipimu yg biasanya memerah saat dingin. Disesap hidung yg pahatan lekukannya pastilah dicipta sang mahakriya sambil tersenyum. Perlahan mengusap bibirmu yg pastilah formasinya nyaris selalu berbentuk kurva u elips memanjang. Ah bibirmu itu, yg sempat dulu… ah sudahlah.

Biarkan udara yg bergerak menyusup ke celah kain, mengisi rongga di antara lembut rambutmu, menyisir setiap lembarnya, setiap jalinan kisut ia uraikan dengan indah. Tepatnya; menjadi semakin indah dari biasanya.

Di bawah sini, biar aku memandang ke atas situ. Ah diatas situ tak perlu kamu tahu aku ada dibawah sini. Nihilkan saja aku bila kau rasa perlu. Kamupun tak perlu tahu; saat itu pastilah aku cemburu pada angin. Sangat. Sungguh.

Di atas situ, biarkan nalurimu yg memandu; apakah kau pejamkan mata dan biarkan rasa bicara saat angin bergerak melingkupmu, atau biarkan matamu -jendela jiwamu- terbuka menikmati jutaan kerlip kunang kunang dan bintang di kejauhan sana.

Biarkan saja aku dibawah sini.

07 Januari 2018.

Internusa 6.

Sweat (steepstep tracks)

Ambil langkah, awali pelan pelan saja. Biarkan waktu memandu langkah pacu perlahan.
Aku lupa, apakah tungkai kaki panjangmu itu memang terbiasa dibawa memburu detik waktu atau tidak.
Aku jelas tak lupa, bagaimana tungkai tumitmu terangkat saat hembusan nafasmu terasa hangat di wajahku saat kita nyaris tak berjarak. Saat itu kita… ah sudahlah.

Jangan sampai terlupa, pilih jenis alas kaki ternyaman bagimu; over pronator, neutral pronator, atau supinator. Malah mungkin, biarkan saja permukaan kulit telapak kaki imutmu itu menyentuh permukaan jalur pacu pilihanmu; tanah, gravel, rumput, pasir padat, sintetis, atau aspal. Biarkan sensor sensor syaraf di bagian paling ujung bawah tubuhmu itu terstimulasi selama kau memacu. Ah seingatku, justru biasanya setelah disitu dibagian dimana nyaris seluruh ujung simpul syarafmu berkumpul itu terstimulasi, baru kemudian kita memacu, saat itu, saat kita….ah sudahlah.

Menurut mereka, nyaris seluruh bagian otot bergerak ketika kita menggerakkan tungkai kaki menjejakkan telapak menelusuri jalur. Menyusur jelajah dan kemudian tarikan nafas semakin kerap. Setiap orang memiliki ritmenya sendiri, setiap orang memiliki kekhasan liuktubuh unik saat bergerak berselancar meniti lajur. Aku belum menemukan padanan kata untuk satu kata asing ini; paradox. Untuk menggambarkan betapa gemulai gerakmu juga menyiratkan kuat tegas kukuh gerakmu saat mendayung di aliran waktu. Betapa kelenturan bersanding kegetasan dengan laras, unik tiada tara.
Aku terkesan saman sekaligus terbuai balet, terbius bedoyo ketawang dan terpana jaipong di saat yg sama, terasuk kecak dan saat itu juga terpesona gambyong,  tersihir sintren waktu terperangah hula, tergugu maori namun tergagap whirling dervishes, ah sudahlah, ya itulah…itu.
Segala kontradksi itu, hal hal paradoksal tersebut, bisa dirangkum cukup dalam tiga buah kata berbeda. Pertama; indah. Kedua; indah. Ketiga; indah.

Dan,
tak bisa,
tak mungkin,
tak mampu,
nirdaya untuk lupa.
demikian pula gerakmu, saat itu, saat kita… ah sudahlah.

Dan tolonglah, jangan berhenti. Bergeraklah terus sesuai waktu dan kehendak pacumu. Biar, biarlah kamu tak perlu tahu aku ada sekurang berbelas berpuluh langkah nirkehendak menyusulmu, bahkan mensejajarimu lagi pun nirkuasa. Bergeraklah terus menempuh jalur, meniti lajur. Ikhlaskan mataku, jendela jiwa dimana selalu ada bagian dirimu bersemayam jauh didalamnya, menelusuri & merekam setiap milidetik indahmu.

Melangkahlah selalu, biarkan jelajah jejak hidupmu memberi sejarah pada jalur yg kau tempuh.

Aku akan ada, masih, dan selalu.

27 April 2018.
Argo Parahyangan 30.

Sangkal

Tidak, aku tidak rindu.
Tapi aku nirkuasa menyanggahmu, pada sangkaanmu.
Bahwa aku rindu.

Tidak, aku tidak rindu.
Tapi aku tanpa kehendak membantahmu, pada dugaanmu.
Bahwa aku rindu.

Tidak, aku tidak rindu.
Tapi aku, ah sudahlah.
Ya aku.

Dentang Jarak

(terjemahan sebebasnya dari tulisan yg aslinya berjudul DISTANCE BELL)

Jarak Dentang
Sometimes loud, many times fade but adequately clear enough, i can hear the bell rang from distance away.
terkadang kencang, seringnya lamat saja namun cukup jelas, aku dapat mendengar dentangnya dari kejauhan.
well, sometimes it seems from not so distance away. but many times it seems like its from a really really major distance away.
ya, terkadang sepertinya terasa tak terlalu jauh. namun lebih sering terasa berasal dari suatu tempat yg teramat jauh.
sometimes it is a terrible, devastating sound. many times I find it sweet and soothing.
like whispers we remember heard given to infants to relieve them from crying. like winds we vaguely feel swooshing among our hairs softly. like the sounds of leaves splash by waters of a near ending rain slowly fade. like breeze of mornings before evaporized by the sun. like the first touch of cotton candy to the tongue. like the delicate of our first touch to each other. like eyes unforcibly closed while a deep breathe. like eyes unavoidably closed while we requitted each other. like eyes can’t hide a smile.
terkadang terasa sungguh mengganggu. namun seringnya aku merasakannya manis lembut melena.
seperti bisikan yg kita ingat diberikan pada bayi mungil saat meredakan tangisannya. 
seperti angin yg dirasakan semilir mengarungi sibakan rambut kita dengan lembut.
seperti suara daun yg tersiram gerimis saat hujan mendekati akhir perlahan menghilang.
seperti hawa embun pagi sebelum menguap terpapar matari.
seperti lidah saat merasakan cecapan pertama serabut arumanis.
seperti rindingan lembut saat kita pertama kali saling menyentuh.
seperti mata yg tanpa paksaan mengatup tertutup saat menghela nafas yg dalam.
seperti mata yg tak terhindarkan menutup saat kita saling merengkuh.
seperti mata yg tak kuasa menyembunyikan gurat senyum.
sometimes loud, many times fade but adequately clear enough, i can hear the bell rang from distance away.
terkadang kencang, seringnya lamat saja namun cukup jelas, aku dapat mendengar dentangnya dari kejauhan.
well, sometimes it seems from not so distance away. but many times it seems like its from a really really major distance away.
ya, terkadang sepertinya terasa tak terlalu jauh. namun lebih sering terasa berasal dari suatu tempat yg teramat jauh.
sometimes it is a terrible, devastating sound. many times I find it sweet and soothing.
terkadang terasa sungguh mengganggu. namun seringnya aku merasakannya manis lembut melena.
like you.
seperti dirimu.

 

Internusa 4. Footprint in the Sands.

Pilihlah suatu fajar, di batas air menyentuh daratan yg menghadap timur. Atau senja, di batas daratan menyentuh air luas yg menghadap barat. Saat matari baru saja muncul menyapa, atau beberapa saat sebelum matari pergi bersembunyi. Terserah yg kamu suka, yg kamu mau. Jangan! Ayolah jangan! Jangan dulu duduk atau berbaring di miliaran, -triliunan, butir putih perak abu itu. Berjalanlah. Pelan. Berjalan. Lirih seperti menyisir titian. Biar hanya ujung jari kakimu yg direngkuh butiran, dan butiran itu membiarkan dirinya lesak ke dalam di setiap jejakmu. Yakinkan satu garis lurus bisa ditarik antara satu jejak kaki kiri ke jejak kaki kananmu berikutnya. Terus begitu sambil ayunkan lenganmu lembut pelan angkat ke atas kepala sampai jemari dari kedua tanganmu saling menyentuh dan membentuk kurva bundar, sebelum kembali kau sampirkan ke samping. Terus begitu. Hampiri lidah air yg selalu datang pergi menjamahi menjilati daratan. Jangan! Ayolah jangan! Jangan biarkan ujung kain gaunmu yg lembut jatuh itu sampai merasai asinnya deburan itu. Tak apalah sedikit saja ujung jemari kakimu basah terkena jamahan garam cair, namun segeralah menjauh berlari kecil, ringan, begitu jilatan itu mulai membasahimu. Biarkan. Terus begitu. Biarkan ia selalu penasaran kasmaran saat deburnya datang berupaya menyentuhmu lalu pergi untuk kemudian datang lagi. Setelah berkali debur itu dibiarkan sedikit saja menjamahmu, menjauhlah sedikit kemudian barulah duduk atau berbaring di hamparan butiran itu.

Biar, biarlah kamu disitu. aku disini.

Kamu di hamparan butiran itu, aku di suatu jarak tak kasat mata walau di hamparan yang sama.

tak perlu kau indahkan aku , malah mungkin niatpun kau tidak. Nihilkan aku sebagaimana itu kau rasa perlu.

Genggam remas sepenuh jemari tanganmu butiran itu, biarkan menggeragas berebut lepas diantara jari lentik milikmu. Lalu biarkan hamparan itu menerima ikhlas setiap derajat kurva tubuhmu saat kau hempaskan diri diatasnya, melesak di lembabnya sepadat sehalus selembut sekeras sebagaimana alam menitahkan pada kuarsa berseraga air. Ah butir butir beribu berpuluhribu beratusribu butir, kau saat ini menyentuh lebih banyak dari apa yg pernah dan telah sekian lama tak bisa kuraih. Ah butir terhampar luas, seandainya bisa kau rambatkan pesan selaksa jiwa pada ia yg dulu pernah berjalan bersama bertaut jemari menyusuri hamparan dari aku yg duduk di suatu jarak tak kasat mata di hamparan yang sama.

Ah wahai butir butir yg merengkuh dirimu, bersediakah saat ini kau bertukar peran denganku?

INTERNUSA 7.1

Beranda di Sisi Hamparan Pasir.

Kita tidak memilih beranda itu. Tepatnya, tak ada pilihan lain bagi kita selain berada di beranda itu, untuk duduk saling berhadapan. Saat itu kita tidak, tepatnya belum, berani bersisian. Saat itu kita bertukar, tepatnya silih berganti, pandang. Saat satu mendongak mencuri tatap, yg lain serta merta tertunduk. Seolah saling berupaya agar tak tergalidalam dari apa yg tertampakjeli yg dipancarkan mata. Angin senja yg seolah sengaja bergerak serta singgah melewati beranda untuk kemudian menuju pantai dan melepaskan diri ke lautan luas di salah satu ujung selatan pulau jawa bagian barat, nampaknya tak kuasa mendinginkan hangatnya pipimu yg merona merah saat akhirnya nekad tiba tiba kumenyengajatatap matamu saat kau mendongakcuritatap. “Pourquoi vous me regardez de cette façon?” Ekspresimu demikian seolah menyampaikan tanya, & dalam diam senyap senyumku seolah menyampaikan jawab “mengapa kalian perempuan selalu ingin tahu & mendengar kembali apa yg sebenarnya sudah sama sama dimengerti?”

Dan kemudian senyap kembali menjadi raja, sunyi menjadi ratu, sepi mengambil alih kuasa. Setelah tak tahan pada bunyi detak gerak jarum panjang yg terasa kencang & terdengar makin kencang di jam yg menasbihkan dirinya sebagai saksi di dinding sebalik beranda itu, aku memberanikan diri menjulurkan tangan meraih ujung jarimu, yg segera kau tarik sembunyikan di balik kain nan panjang yg menutup kepala menyulur sampai bawah.

“Jangan!…tidak elok lakukan itu…” ah mahluk indah itu rupanya bisa bersuara! berbicara dengan bahasa yg sama denganku! Dan sukurlah, akhirnya kata katapun saling berniaga. Walau masih saja, kita seolah sama sama tak ikhlas. Kau tak rela bertanya langsung apa yg sekian lama ingin, butuh, harap, dengar terucap langsung. Sungguh ketat terjaga penguasaan dirimu, sebagaimana mungkin itu yg ditanamkan ibumu masa itu. Aku tak mampu menyampaikan langsung apa yang sedalamdalam kusimpan kurasa, tak rela karena seolah takut hilang nilai & keindahan harta bila tak lagi terpendam dalam. Rasa bangga diri ketat mengkungkungku.

Namun rupanya pantai dan laut punya sihir tersendiri, yg memusnahkan kungkungan meluluhkan bangga diri. Di beranda itu akhirnya bisik hati saling terpahami lewat binar mata dan terjawabnya ujaran “jadi ini harinya ya, hari ini kita bersama tetapkan” dengan sebuah anggukan lembut nan indah darimu.
Di sebuah beranda senja pertengahan tahun itu.

Dan kini, sekian digit ganda tahun berlalu, aku singgah lagi di beranda itu.
Tak ada angin yg mampir, jam dinding diam nirgerak. Tak hadir lagi sihir pantai & laut.

Tak ada lagi dirimu.

26 Mei 2017.
diatas Bima 43, Gubeng – Madiun.